Sifat Kekanak-kanakan Pada Pria Dewasa

Menjadi pria dewasa, belum tentu pikirannya juga dewasa. Banyak diantara kita yang mungkin usianya sudah diatas 20 tahun atau bahkan lebih dari itu, namun selalu merasa belum dewasa alias “bubudakeun” kalau menurut istilah sundanya, alias selalu merasa masih muda dan belum bisa membuka cakrawala berpikir kita menjadi lebih dewasa dan bijak dalam menghadapi setiap masalah.

Tapi kadang sebaliknya ya, kita juga sering melihat ada anak-anak yang kalau dilihat dari jumlah usia dan bentuk tubuh masih jauh dibawah kita. Namun, tingkat kedewasaannya lebih mengungguli diatas kita. Misalnya, seorang anak yatim yang ayahnya sudah meninggal. Anak seperti ini, biasanya akan lebih bersikap dewasa, apalagi kalau dia itu anak sulung yang harus menggantikan peran ayahnya sebagai kepala keluarga. Jadi kesimpulannya memang tingkat kedewasaan itu tidak bisa diukur dari faktor usia apalagi bentuk tubuh, setuju?

Mari kita kembali membahas tentang sifat kekanak-kanakan pada pria dewasa. Sifat ini memang sepertinya alamiah ya dan tak akan mungkin menghilangkannya sama sekali. Karena, walau bagaimanapun sebagai pria dewasa kita masih juga ingin merasakan berbagai kegiatan yang biasa kita lakukan sewaktu kita masih anak-anak atau abege dulu. Semisal main game, becanda dengan teman-teman kita, dan yang lainnya. Tapi, sebenarnya bukan hal ini yang akan kita singgung pada postingan kali ini.


Sifat kekanak-kanakan yang dimaksud adalah bukan yang bersifat alamiah, tapi yang bersifat karakteristik yang biasanya selalu menempel dan terbawa hingga seseorang beranjak dewasa. Sebagai contoh, ada seorang suami yang ketika bujangannya dulu selalu dimanja oleh orang tuanya dan dikatakan malas untuk belajar apalagi bekerja. Nah, ketika dia dihadapkan pada satu persoalan yang pelik, semisal dia telah menghamili pacarnya, maka dia pun dipaksa harus bertanggung jawab. Setelah dinikahkan oleh kedua orang tuanya, maka otomatis dia menjadi seorang suami dan sekaligus kepala keluarga. Namun, si pemuda ini sifatnya masih sama seperti ketika dia bujangan. Malas bekerja, sering keluyuran malam, bahkan cuek terhadap keluarga dan tidak memberikan nafkah yang layak bagi keluarganya. Sifat jelek seperti ini, adalah sifat kekanak-kanakkan yang merupakan cerminan yang buruk dari seorang pria dewasa yang telah matang dari segi usia dan bentuk tubuh.

Nah, dari sedikit pemaparan diatas mungkin anda akan mencoba mengerti bahwa sifat kekanak-kanakkan itu adalah sifat yang jelek yang harus kita coba hilangkan sedikit demi sedikit. Apalagi, jika anda adalah seorang pria dewasa yang sudah menikah dan mempunyai anak. Kewajiban anda ada dua, menjadi suami sekaligus ayah yang baik yang harus bisa memimpin dan memberikan yang terbaik untuk istri dan anak-anak anda. Hilangkan sifat cuek, egois, mau menang sendiri, tidak mau mengalah, sering marah-marah, tidak mau membantu pekerjaan istri di rumah, menelantarkan anak-anak, dan masih banyak sifat-sifat lain yang merupakan sifat kekanak-kanakkan yang sebenarnya tidak pantas untuk anda miliki sebagai pria dewasa.

Akhir kata, saya mengajak kepada para pria. Marilah menjadi pribadi yang tidak hanya matang dari segi usia, namun juga matang dari segi pola pikir dan cara pandang kita. Jangan menjadi seorang “bayi berkumis” atau anak-anak dalam tubuh orang dewasa. Yuk bangkit, banyak orang yang membutuhkan kiprah kita. Be a Men!

6 thoughts on “Sifat Kekanak-kanakan Pada Pria Dewasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge